Click here for Myspace Layouts

Sabtu, 15 Oktober 2011

"Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin"

            Okey, kali ini saya mau membahas tentang buku yang saya baca di penghujung tahun 2010 kemarin. Judulnya ‘Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin’ karya penulis favorit saya Om Tere Liye. Awalnya sih ke toko buku buat nyari buku ketiga dari tetralogi Anak-anak Emak karya Om Tere. Di bukunya yang kedua, katanya buku ketiga akan terbit bulan Oktober 2010. Tapi sampai sekarang ga terbit-terbit. Hmm.. Pembaca kecewa… Hehehe.. Daripada pulang dengan tangan hampa, akhirnya saya memutuskan untuk beli buku Om Tere yang udah lama saya incer juga. Ya, buku yang mau dibahas ini.
Overall, masih sama seperti buku-bukunya yang lain, di buku ini Om Tere juga menyajikan cerita bercita rasa ‘keluarga’. Yap, itulah istimewanya buku-buku Om Tere. Selalu mengangkat tema keluarga, di tengah-tengah novel-novel yang mengangkat tema cinta ababil alias abege labil yang –maaf- agak kurang bermutu dan ga ada pelajaran moralnya.
           Tapiiii.. Ada yang cukup beda di novel Om Tere yang satu ini. Selain keluarga, Om Tere juga mengangkat masalah cinta. Namun, tentu saja bukan cinta ababil, tapi cinta yang penuh dengan misteri. Hehe.. Buat para perempuan yang punya idola cowok-cowok yang lebih tua, pasti pas banget baca buku ini. Dan buat para cowok yang gengsian banget buat menyatakan rasa cinta kepada sosok wanita idamannya, hanya karena alasan yang ‘sebenernya ga penting deeh’, juga pas banget buat baca buku ini. Pokoknya jangan sampai menyesal di akhir, seperti yang dialami Kak Danar, tokoh di novel ini.
Untuk alur ceritanya, Om Tere pake sistem maju-mundur. Yang bercerita di sini adalah seorang perempuan berusia 22 tahun (kurang lebih yaa..) bernama Tania (di novel ini dia yang menjadi ‘AKU’). Trus tokoh lainnya juga ada Dede (adiknya Tania), Ibu, Kak Danar (di novel ini dia yang menjadi ‘DIA’), Kak Ratna, dan beberapa figuran. Agak bingung? Yap, yap.. Kalau ga bingung di awal, bukan novel Om Tere namanya… Hehehe..
           Buat saya, seorang penggemar berat buku-bukunya Om Tere, buku ini so special.. Kenapa? Karena Om Tere jarang-jarang mengangkat tema cinta. Emang siih, biasanya Om Tere cerita tentang cinta, tapi dalam lingkup keluarga. Cinta dari ibu, ayah, kakak, adik, om atau tante. Tapi untuk novel ini, Om Tere cerita tentang cinta antara kaum Adam dan Hawa. Hhuhuy… Teruuus, setingan tempatnya di Depok, tepatnya di Margonda. Menurut analisis aku siih (ihiy), tempatnya di Gramed Margonda. Yah, jadi bisa ngebayangin aja gitu.. Hehe.. Novel ini juga ngajarin kita buat selalu ikhtiar. Soalnya, pemeran utama novel ini awalnya cuma pengamen miskiiin banget, tapi seiring jalan, dia dapet beasiswa ASEAN untuk sekolah di Singapura dan jadi pekerja di bursa efek Singapura. Keren deh.. Yang terakhir, akhir novel ini ga happy ending. Jadi buat yang ga suka novel yang ga happy ending, mending jangan baca, entar kecewa. Hehehe..
Buat para penggemar novel, novel ini bisa jadi alternatif lain, di antara novel-novel teenlit yang gitu deeh… Hehehe.. :p
            Buat para penggemar novel-novel Om Tere, novel ini akan memberikan warna berbeda dari novel-novel Om Tere yang lain.
This book is very recommended .. :D
ini dia cover bukunyaaa...
ini dia cover bukunyaaa…

Rabu, 12 Oktober 2011

H-15

"BULAN BAHASA BERSAMA IWAN SETYAWAN"
"9 SUMMERS 10 AUTUMNS"
^_^

alhamdulillah,..
sponsor kami "pocari" mendukung acara kami,..
semoga acara kami bisa berjalan dengan sangat memuaskan,.
amin,..

Selasa, 11 Oktober 2011

lyric "the day you went away"

Well I wonder could it be
When I was dreaming 'bout you baby you were dreaming of me
Call me crazy call me blind
To still be suffering is stupid after all of this time

Did I lose my love to someone better
And does she love you like I do
I do you know I really really do

Well hey so much I need to say
Been lonely since the day
The day you went away
So sad but true
For me there's only you
Been crying since the day
The day you went away

Oh whoa .... yeah... oh...ooh...

I remember date and time
September twenty-second Sunday twenty-five after nine
In the doorway with your case
No longer shouting at each other
There were tears on our faces

And we were letting go of something special
Something we'll never have again
I know, I guess I really really know

Well hey so much I need to say
Been lonely since the day
The day you went away
So sad but true
For me there's only you
Been crying since the day
The day you went away
The day you went away
The day you went away

Oh whoa .... yeah oh

Did I lose my love to someone better
And does she love you like I do
I do you know I really really do

Well hey so much I need to say
Been lonely since the day
The day you went away
So sad but true
For me there's only you
Been crying since the day
The day you went away

Why do we never know what we've got till it's gone
How could I carry on
The day you went away
Cause I've been missing you so much I have to say
Been crying since the day
The day you went away

The day you went away
The day you went away
oh whoa .. yeah oh

ceritaku H-16

hari ini target kami <kelas bahasa> ngirimin MOU ke Toga Mas dan menemui salah satu sponsor kami,..
tapi apa daya,..
karena seorang yang benar benar buat aku muuangkel, salah satu sponsor kami gagal ku temui,..
gara" itu orang juga,..
semua jadi berjalan gak seperti seharusnya,..
terimakasih ya,..! >_<

Senin, 10 Oktober 2011

cerita

kali ini H-17,..
rasanya dek dekan,..
pengen cepet selesai,..
tapi takut juga,..
oya,..
Kami penghuni XI Bahasa ngadain acara "BULAN BAHASA" dengan tema "Bahasa Indonesia Wujudkan Inspirasi Karya Anak Bangsa".
puncaknya tanggal 27 Oktober. dimeriahin sama Iwan Setyawan, Flakustik, dan Drama Nasional,..
dateng yuuk,...
biaya pendaftaran hanya Rp15.000,00 kok,..
tiket terbatas loo,..^_^
bisa dibeli di MAN 3 MALANG, kelas XI Bahasa atau kesekertariatan di sebelah pintu gerbang MAN 3 Malang...

Kamis, 06 Oktober 2011

resensi 9 summers 10 autumns

9 Summers 10 Autumns: resensi

Baru saja saya selesai membaca buku “9 Summers 10 Autumns” (atau saya sebut saja 9/10) karangan Iwan Setyawan. Buku ini saya beli beberapa hari yang lalu dan sekarang sudah tamat. Artinya buku ini saya sukai karena bisa mengalahkan kebosanan saya dalam membaca :)   Ada banyak buku, novel, yang menurut orang bagus-bagus tapi belum selesai saya baca.
Buku ini bercerita mengenai diri Iwan sendiri, sebuah otobiografi. Lucunya, di dalam buku ini Iwan becerita kepada seorang anak kecil yang mula-mula dia temui ketika dia dirampok di New York. Mengapa bercerita kepada anak kecil? Saya hanya bisa menduga-duga.
Bercerita kepada seorang anak kecil yang dekat kepada kita akan menghilangkan kesan arogan (menceritakan kehebatan kita) dan menghilangkan kesulitan bercerita mengenai hal-hal yang bersifat privat (yang sulit diungkapkan). Sebagai contoh, Iwan lebih mudah untuk mengatakan “Aku kangen bapak“, kepada anak kecil itu daripada dia langsung berkata kepada pembaca. Bagian “aku kangen bapak” merupakan bagian yang paling saya sukai dalam buku ini.
Ah, saya baru ingat. Saya ingin membuat otobiografi saya dan tidak pernah berhasil. Ada banyak hal yang sulit saya ceritakan. Mungkin menggunakan media anak kecil ini merupakan sebuah solusi? Entahlah. Penggunaan anak kecil ini juga mengingatkan saya akan film The Kid, yang dibintangi oleh Bruce Willis.
Enough about the kid. Mari kita diskusikan hal lain.
Cara Iwan bercerita berkesan seperti dia sudah sering menulis buku! Tidak terlalu bertele-tele tapi juga tidak kering. Ini berbeda dengan cara saya menulis yang terlalu to the point (dan akibatnya menjadi kering). ha! Lihat saja resensi ini untuk melihat cara saya menulis. ha lagi! Cara Iwan menulis mungkin yang membuat saya bisa menyelesaikan buku ini dengan cepat, tetapi tidak terlalu buru-buru.
Buku ini membuat saya bersemangat untuk menulis buku lagi. Saya pikir riwayat hidup saya juga banyak yang menarik (dan bahkan lebih banyak yang bisa diceritakan). Saya tadinya berpikir bahwa kehidupan saya tidak menarik bagi orang lain, tetapi setelah membaca buku Iwan saya jadi banting setir. Banyak yang bisa saya ceritakan dari kehidupan saya. Hanya saja saya masih harus belajar untuk becerita.
Tentu saja bagi yang berharap buku ini memiliki ketegangan ala cerita action akan kecewa. Buku ini lebih kalem. Membaca buku ini seperti mendengarkan lagu-lagu opera yang dibawakan oleh Pavarotti daripada mendengarkan musik cadas band Kiss. Oh ya, dari cerita di buku ini saya jadi tahu bahwa Iwan memang menyukai teater dan opera. Bahkan teaterlah yang menjadi obat untuk mengatasi tekanan atas kemiskinan masa kecilnya.
Hal lain yang menarik bagi saya adalah saya menangkap kesan kesepian (loneliness) dalam kehidupan Iwan di Amerika. Ketika saya baru memulai hidup di Kanada, saya merasakan hal yang sama. Hal ini sukar untuk saya ceritakan kepada orang yang belum pernah mengalaminya. Kebanyakan orang tinggal di luar negeri untuk jangka waktu yang “singkat”, 2 atau 3 tahun. Bagi yang tinggal lebih lama, katakanlah 10 tahun, maka hal ini dapat dirasakan dan dimengerti.
Hmmm … sebetulnya tulisan ini berisi tentang resensi buku Iwan atau tentang diri saya sih? Hal yang menarik dari membaca buku atau mendengarkan musik adalah kita menjadikannya sebagai hal yang personal, yang menjadikan bagian dari sejarah kehidupan kita. Kita mengguratnya di sebuah titik dalam perjalanan waktu (time space). Apa artinya, that book made a dent in somebody’s life. Iwan, selamat atas keberhasilan ini.
Mengenai ceritanya? Ya tentang Iwan. Dia dilahirkan dari keluarga sopir yang di kota Batu, Jawa Timur, (kota Apel). Dengan keterbatasan yang ada, sangat sulit untuk diramalkan bahwa akhirnya dia bisa menjadi salah seorang manager di perusahaan raksasa di New York (The Big Apple). Bagaimana mungkin? Cerita tentang perjuangan dia dan keluarganya dapat menjadi insipirasi atau motivasi bagi para pembaca. Daripada saya menceritakan detailnya di sini, silahkan baca bukunya saja deh. Tentu saja lebih bagus ceritanya di sana :)
Nilai akhir? Bagi saya buku ini bernilai 4,5 dari skala maksimum 5. Mengapa tidak bernilai 5? Sebetulnya alasannya mungkin agak silly. Kalau saya berikan nilai 5, atau nilai maksimum, maka hal ini akan menjadi bumerang bagi Iwan. Dia akan mengalami stress untuk membuat buku lagi yang bisa mengalahkan buku ini. How do you top 5 out of 5? Akibatnya mungkin Iwan tidak mamu membuat buku lagi. Padahal kita semua menantikan buku berikutnya. Nah, kalau diberi nilai 4,5 kan berarti masih bisa buat buku yang nilainya 5. ha ha ha.