“TAK HARUS MEMILIKI”
“Pyaaaarrrr,..!” Memecah keheningan di malam sunyi senyap itu. Aku mulai menyadari segelas air putih luput dari genggamanku, aku merunduk dan segera membersihkan pecahan dengan separuh nyawaku. Malam ini entah kemana arus pikirku, hanya ada dia. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan jika aku bertemu dengannya nanti. Aku mengumpulkan serpihan - serpihan kaca, menguatkan diri untuk berdiri dan membuangnya. Dalam hatiku berkata, dapatkah aku membuang pikiran – pikiran bodohku seperti aku menguatkan diriku untuk membuangnya ke keranjang sampah? Bodoh, tak sepantasnya aku seperti ini, terpuruk dalam ketidak pastian, menanti sesuatu yang sebenarnya tak ku tahu apa yang ku nanti. Sudahlah, sebaiknya aku segera memejamkan mataku sebelum semua pikiranku menghilang tanpa arah.
Aku mulai memejamkan mataku, terbayang kerutan - kerutan diraut wajahnya, senyuman manis bibirnya, teduh pandangan matanya, alunan suara yang menenangkan hati, dan segala hal yang pernah kita jalani bersama, perlahan – lahan memenuhi banyang semuku, bagai rekaman CD yang terlihat sangat jelas. Aku mulai jengel dengan bayangan – bayangan yang kini membuatku gila, ku ambil obat tidur dan segera aku melumatnya. Kurebahkan tubuh di ranjang kenanganku bersama sudara kembarku, dan benar tak beberapa lama obat itu mulai bereaksi. Malam ini tak ada bunga tidur yang menemaniku, hanya aku dan boneka – bonekaku.
“Sayang, bangun nak, matahari sudah tak sabar menunggu sapaan darimu,” Terasa belaian lembut menyentuh pipiku, membuka selimut, dan membantuku untuk mengambil posisi siap beranjak. Dengan langkah malas – malasan aku melangkah menuju kamar mandi dan bersiap siap untuk kuliah. Mama dan papa sudah menantiku di meja makan, menunggu kehadiranku seperti biasanya, di keluargaku memang sudah biasa makan pagi bersama, layaknya tradisi, hanya saja kini tak seperti 4 bulan yang lalu. Biasanya kami makan berempat, papa, mama, Kak Cheri ( saudara kembarku ), dan aku. Kak Cheri sudah bahagia bersamanya, dan sebentar lagi aku akan menjadi tante. Tante dari anak saudara kembarku, Kak Cheri memang menginginkan menikah muda, entah apa alasannya, kakak belum sempat memberitahuku, mungkin karena kesibukan kakakku.
“Tin…tin,…” Suara klakson mobil Rere terdengar lembut menyapa telinga kami, aku beranjak dari singgasanaku, menyambar sepotong roti dan tas kesayanganku. “Ma, pa,.. Cherina berangkat,” sambil lari menuju pintu depan. “Ehem,” deham mama padaku, aku berbalik arah dan mencium pipi mama dan papa. “Daaa mama,.” Sambil berlalu. Aku dan Rere melesat melintasi kompek perumahan rumahku. Rere memarkir mobil ditempat biasanya, di sebelah mobil Ryan, cowok yang selama ini selalu ada untukku. Baru saja melangkah beberapa langkah dari mobil kami, tiba – tiba ada sesosok yang merangkulku dari belakang. “Hai Cherina, hai Rere,” tanpa ada rasa canggung. Memang begitulah kami, bersahabat sejak SD, sampai sekarang, rasanya ingin ku pukul dia keras – keras ketika dia merangkul pundakku. Tapi dia selalu bisa menangkis segala jurus –jurus jitu yang kuandalkan, tak heran dia juara 1 lomba karate tingkat Nasional, dan dia adalah salah satu cowok pujaan cewek – cewek di kampus. Setelah jam kuliah kami usai, Rere mengajakku makan siang di cafe biasa, langanan kami dari SMA dulu, aku, Rere, Ryan, dan Kak Cheri. Disini aku juga mempunyai kenangan indah bersama dia, hanya aku dan dia.
***
Hujan turun sangat deras, aku dan dia memutuskan untuk mampir ke cafe ini, malam itu kami baru saja pergi ke salah satu toko buku yang cukup ternama di kota kami. Kami banyak berbincang – bincang disini, di meja nomer 9, kami berdua sangat senang pada nomer 9. Karena tanggal lahir kami sama- sama jatuh pada tanggal 9, dan kami menganggap bahwa angka 9 adalah angka keberuntungan kami. Deras hujan tak membuatku ingin meninggalkan tempat ini, apalagi berdua dengannya, rasanya aku sanggup hidup disini selamanya, hanya dengannya. Entah apa yang kupikirkan saat itu, yang jelas aku nyaman, tenang, senang dan damai ketika aku berada di sisinya. Setiap hari Om Dhimas menjemputku sepulang sekolah, tentunya menjemput kami berdua, aku dan Kak Cheri. Kebersamaan yang hangat, itu yang selalu kurasakan saat kami bersama, seperti saat ayah dan bundaku ada.
***
Enam tahun lalu tragedi besar menimpa keluargaku, ayah, bunda, Kak Cheri dan aku, kami mengalami kecelakaan, dan alhasil ayah dan bunda kami meninggal seketika itu juga. Ketika kami sadar, aku dan Kak Cheri sudah berada di rumah sakit, ditemani oleh om – om yang asing di mataku. Ya, semenjak itulah aku dan Kak Cheri mengenal Om Dhimas, Om Dhimas selalu menolong kami dalam segala hal dan mencarikan orang tua asuh yang pantas untuk kami. Mama dan papaku yang sekarang. Om Dhimas tak pernah lupa menjenguk kami setiap Hari Senin dan Jumat, Om Dhimas selalu memberi kami oleh – oleh ketika datang mengunjungi kami. Kami selalu menunggu – nunggu kedatangan Om Dhimas, meskipun mama dan papa selalu memberikan kasih sayang yang amat besar. Biasanya Om Dhimas mengajakku dan Kak Cheri berlibur ketika hari minggu dan tentunya ketika Om Dhimas tak ada jadwal bekerja. Om Dhimas selalu membuatku tersenyum dan membuatku kagum, dari semua yang dia lakukan, tapi aku tak pernah bercerita pada Kak Cheri, karena ini tak boleh terjadi, aku tak mungkin bersamanya, dan tak mungkin juga dia mau denganku.
Semenjak kecelakaan maut itu, Kak Cheri jadi sakit – sakitan, entah apa penyakitnya, yang jelas kakak sering pusing dan biasanya berkelanjutan, jadi Om Dhimas juga lebih sering main ke rumahku sekarang. Semakin aku mengenal Om Dhimas, semakin aku tak bisa menahan rasa yang ada di benakku. Entah kenapa Om Dhimas seperti malaikat yang sangat sempurna untukku, dan aku berharap Kak Cheri tak merasakan rasa yang sama sepertiku. Tapi sejauh ini, aku merasa bahwa Kak Cheri biasa – biasa saja dengan Om Dhimas. Malah aku yang paling dekat dengan Om Dhimas. Aku dan Om Dhimas mempunyai banyak kesamaan selain angka 9 tadi. Om Dhimas suka pedas, suka nonton, suka film horor, suka membaca novel, bercerita, dan makan, semua yang Om Dhimas suka, memang sudah aku sukai dari dulu, dan karena itu juga aku makin suka pada Om Dhimas. Om Dhimas memang terpaut jauh umurnya denganku, aku 18 tahun, dan Om Dhimas 32 tahun, namun dari sisi fisiknya, Om Dhimas belum terlalu tua kok.
Aku tau perasaan ini sebenarnya tak boleh terjadi, aku tak menginginkannya, tapi apa daya, rasa itu timbul dengan sendirinya, makin lama ku tahan, makin sayang aku padanya. Hingga suatu saat Kak Cheri benar – benar sakit parah, kakak menderita kangker otak, dan itu membuat papa, mama, aku dan Om Dhimas makin tak memiliki waktu untuk bermain, ataupun berjalan – jalan untuk melepas penat. Sehari – harinya kami bergiliran menjaga Kak Cheri, berangsur – angsur kesehatan Kak Cheri semakin membaik, kami membawanya pulang ke rumah. Tentunya Om Dhimas tak tega meninggalkan kakak sendiri, sepertinya Om Dhimas memeng diberi amanah ayah dan bunda untuk benar – benar menjaga kami, tak ada kecurigaan sedikitpun yang melintas di benakku, yang terfikirkan adalah kakak harus segera sembuh.
Kak Cheri memang mahasiswi terbaik di Universitasnya, dia hanya membutuhkan waktu 3 tahun untuk menyelesaikan kuliahnya. Kalau aku lebih memilih santai dan tak terburu – buru toh aku juga sudah punya Om Dhimas yang selalu disisiku, fikirku. Hari demi hari ku jalani tanpa canda tawa Om Dhimas, kali ini dia memang benar – benar sibuk karena banyak proyek yang harus dia selesaikan. Dan hal itu membuat kami jarang bertemu, belum lagi dengan setumpuk tugas – tugas kuliahku. Mungkin papa, mama dan Kak Cheri juga merasakan hal yang sama, tapi mungkin kehilangan yang mereka rasakan tak sama denganku.
***
“Halooo,… kamu gak papa kan Rin?” suara Ryan menyadarkan aku dari lautan anganku. “Oh,.. aku gak papa kok, cuma capek aja. Mungkin gara – gara semalem aku susah tidur,” meyakinkan Ryan dan Rere. “OK lah kalo kamu emang gak papa, tapi kalo kamu emang ada masalah, udah cerita aja ke kita, kita gak akan bocorin ke anak – anak kok, ya kan Re?” Rere mengangguk menyetujui pernyataan dari si Ryan sambil mengutak – ngatik Hpnya. “Eh Rin, besok kamu gak ada kuliah kan? Jalan yuk, aku pengen ke Pulau Sempu nih,” Aku hanya tersenyum kecil menanggapi ajakan Ryan sambil menyeruput jus faforitku, aku masih belum sadar seratus persen untuk diajak berdiskusi masalah nemenin si Ryan. “Yan, kamu gak ngajakin aku nih?” sela Rere dengan sedikit jengkel. “Ngapain aku ngajakin kamu, emang kamu mau jadi setan diantara aku sama Cherina? Hahhahaha…” Ryan tertawa bagai iblis yang berhasil menakhlukan mangsanya. “Sori Yan, aku gak bisa ikut besok, mungkin aku mau nemenin mama belanja. Dan besok, kami berrencana untuk mengunjungi rumah nenekku.” Sanggah Cherina. “OK deh, tapi kapan – kapan beneran ikut aku ya!” bujuk Ryan, aku hanya tersenyum sambil mengangguk.
“Re, balik yuk, mama pasti udah nungguin aku,” ajak Rere, “Ayo deh,..” sambil berlalu meninggalkan Ryan yang kini sibuk dikerumuni junior – juniornya. Tak sampai 15 menit, mobil Rere sudah memasuki garasi rumahku. Aku segera mencari mama, tapi jam segini biasanya mama sedang memasak di dapur, kalaupun sudah selesai, mama pasti nonton TV sambil menungguku pulang. “Ma,… Mama,..” aku berlari menuju dapur, memeluk, dan mencium pipi mama yang mulai terlihat garis – garis perkasa di raut mukanya. Setelahnya, aku tunggang landang menuju ke kamar, Rere sudah menungguku disana. Dia terbiasa berdiri di balkon kamarku, sambil mendengarkan musik kesukaannya lewat Mp3. Aku merebahkan tubuhku di sofa depan televisi kamarku, Rere mulai mendekat dan menatapku. “Aku tahu, semalam kamu kepikiran lagi kan? Mamamu menghubungiku semalam. Sayang, kamu tahu, aku disini bukan hanya sekedar main atau nemenin kamu atau ngabisin masakan mamamu, atau apalah. Tapi aku disini juga siap buat bantuin kamu, pasti gara – gara Om Dhimas ya?” terawangan Rere menusuk tulang rusukku. “Oke, aku emang belum bisa nglepasn dia Re, kamu tau kan, dari awal aku liat dia, aku udah yakin kalo dia bakalan jadi punyaku, tapi apa sekarang?” buih-buih air mata kini tak terbendung lagi. “Please, bantu aku, biarin aku jaga perasaan aku buat dia!” Aku benar – benar memohon pada Rere. Rere hanya bisa menghembuskan nafasnya panjang – panjang dan menggeleng – geleng. “Kamu punya rencana apa?” tanyanya. Aku hanya menggeleng tak tahu harus berbicara apa.
***
Beberapa bulan setelah Kak Cheri sembuh, tiba – tiba ada kabar bahwa pesawat yang dinaiki papa mengalami kecelakaan dan jatuh ke laut. Hingga hari itu jenazah papa belum diketemukan. Tiga hari setelah kejadian itu, mama berbicara pada Om Dhimas, entah apa yang mereka bicarakan. Namun aku merasa hal itu sangat penting dan rahasia, karena aku diminta meninggalkan mereka ketika mereka berbicara. Sekali lagi, aku dikagetakan oleh teriakan Mbok Ijah, aku lari menuju suara mbok. Aku kaget ketika melihat kakak sudah terkulai lemas di lantai tak sadarkan diri. Aku sangat takut, padahal, kakak baru saja sembuh. Tak lama kemudian mama dan Om Dhimas membawa kakak ke rumah sakit. Aku memaksa untuk diizinkan masuk ke dalam ruang UGD, tapi hasilnya nol. Aku menyimpan beribu – ribu pertanyaan di otakku. Ketika dokter keluar kami langsung menyerbunya. Dan keadaan kakak kini krisis, “Dhimas, mama minta tolong, segera nikahi Cheri, kamu mau melihat Cheri seperti ini?” Aku terpaku mendengar ucapan mama barusan, apakah benar yang mama katakan tadi? Apakah ini yang mereka bicarakan tadi? Aku benar – benar hampa, hancur berkeping – keeping ketika Om Dhimas mengiyakan permohonan mama.
Aku berbalik badan dan lari secepat yang ku bisa. Air mataku tak kuasa lagi kutahan, “Kenapa Tuhan? Kenapa harus aku?” kini buih - buih membasahi seluruh pipiku. Dunia serasa berhenti, hancur, dan tiada gunanya lagi aku hidup. Ketika aku berhasil meredam amarahku, suster memanggilku dan mengatakan jika kakak siuman. Aku mencoba untuk menguatkan diri, atas semua yang akan terjadi nanti. Ternyata di dalam sudah ada mama dan Om Dhimas yang sudah ada di sisi kakak. Aku segera memeluk kakak dan menangis di bahunya yang terasa sangat lemah. Dan ternyata disana aku melewatkan satu moment penting yang hanya terjadi sekali. Aku merasakan cincin di jemari kakak sebelah kiri, “Apa maksutnya, apakah mereka sudah tunangan, oh Tuhan, kuatkan aku!” lagi - lagi air mataku menetes dengan sendirinya. Aku memberanikan diri untuk bertanya, “Kakak dan Om Dhimas sudah tunangan?” mereka tersenyum dan mengangguk menjawab keingin tahuanku. “Kakak akan menikah minggu depan,” terang mama. “Selamat ya kak, om, semoga kakak dan om bisa jadi keluarga yang bahagia, selamanya.” Ucapku pada mereka. Kakakku tersenyum sangat lebar dibalik kelemahannya. Usainya, mama memintaku untuk pulang dan beristirahat, akhirnya aku memutuskan untuk pulang sendiri dengan taxi.
Sesampainya di rumah, aku duduk di sofa ruang tengah. Aku cukup lelah menghadapi semua ini. Aku tak tahu harus berbuat apa, aku bingung harus bagaimana, dan aku benar – benr tak ingin tahu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mencintainya, aku suka dia dari awal aku menatap matanya. Tapi sekarang, aku bisa apa? Kakakku sudah dalam keadaan kritis, orang yang aku sayangi akan menikah dengan kakakku sendiri, papaku baru saja meninggal, apa lagi Tuhan? “Plok!” suara buku diary jatuh di samping kaki kiriku. Bertuliskan CHERI PUTRI TUNGGADEWI. Batinku mulai berdebat, apakah aku harus meletakkannya lagi, atau haruskah aku membukanya? Pikiranku buntu, rasa ingin tahuku lebih besar daripada niatan untuk mengembalikan ke tempat awal buku itu diletakkan. Jemari – jemari tanganku lincah tertuju pada halaman terakhir yang ditulis kakakku.
21 – 10 – 2009
Dear diary,
Cheri seneng liat Cherina bisa normal kaya dulu lagi, terimakasih Tuhan, Engkau telah memberikan banyak malaikat untuk kami, Om Dhimas, papa, mama, mbok ijah temen – temen dan semuanya yang nyemangatin Cheri. Cheri tahu, umur Cheri gak akan panjang, tapi sebelum Cheri meninggal, Cheri ingin menikah dengan orang yang Cheri sayang .
< OM DHIMAS >
“Tuhan, kenapa Engkau menunjukkan ini pada hamba? Apakah hamba bisa menerima semua ini? Tuhan, tunjukkan jalanmu,..!”
Enam hari telah berlalu, semua sibuk mempersiapkan pernikahan Kak Cheri, aku hanya membantu yang ringan – ringan saja. Kalau sedang tidak ada tugas kuliah atau terpaksa saja aku membantu. Hari ini memang benar – benar sibuk, apalagi besok. Pernikahan kakakpun dimulai, mereka melakukan ijab qabul dan melakukun rentetan acara dengan khusyuk. Tak sepatah katapun yang bisa ku ucapkan, tak sepatah katapun yang muncul dari bibirku. Entah kenapa, rasanya aku kehilangan seluruh keberanianku hingga tak bisa bericara.
***
“Ya udah deh Rin kalo loe emang gak mau ngomong, aku balik dulu ya,..”mamiku udah nungguin aku, katanya sih suruh nganterin ke salon, kamu mau ikut gak?”
“Gak deh, aku di rumah aja, siapa tau mama juga lagi butuh aku,”
“Aku pulang ya,.. bye,..!”
“Iya, ati – ati Re,.. Salam ke mami loe,..”
Rere berjalan menuju pintu depan, dia melewati sesosok pria yang terlihat tak asing. “Dek Rere kan? Cherina ada?” tanyanya,.. “Oh, ada om, masuk aja, tante lagi di belakang om,..” Jawab Rere dengan sedikit mengingat – ingat siapa gerangan om – om ini? Om Dhimas berjalan masuk dan menuju tangga. Sepertinya Om – om itu tadi menuju kamar Cherina. “Aku boleh masuk?” Tanya Om Dhimas, aku hanya mengangguk tak menyangka. “Hari itu sebenarnya aku ingin melamarmu,” aku tersentak mendengar perkataan Om Dhimas. “Aku tahu, aku salah, tapi kakakmu membutuhkan aku, dan bukan berarti aku tak membutuhkan kamu. Mungkin aku tak sepantasnya berkata seperti ini, aku hanya ingin mengatakan sejujur – juurnya, bahwa aku cinta kamu, aku suka kamu, aku sayang kamu. Benar jika ada yang bilang, cinta tak harus memiliki. Tapi apa yang ku dapat? Sakit dihatiku, dan aku hanya bisa menyakiti hati kakakmu dengan semua kebohonganku. Aku berusaha menyayanginya, tapi apa? Aku tak bisa melupakanmu. Maafkan aku.” Om Dhimas pergi berlalu setelah mengungkapkan isi hatinya. Aku terperangah dan tak tahu harus berbuat apa. Kenapa dia harus memilih kakak? Kenapa dia harus menikahi kakak? Kenapa harus berbicara padaku tentang semua kebenarannya? Aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya ada di pikiran dia.
Setelah menyelesaikan kuliah S1, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, supaya dia bisa jauh darinya, dan jauh dari kenangan – kenangan yang pernah ada. Kini aku memulai kehidupan baru, tanpa dia, aku bisa, dan aku yakin, suatu saat nanti aku akan menemukan yang lebih baik daripada dia. Dan aku hanya bisa berdoa, semoga Kak Cheri bisa menyayangi Om Dhimas seperti dulu aku menyayanginya, dan begitupula dengan Om Dhimas.
“TAMAT”




