Click here for Myspace Layouts

Jumat, 11 November 2011

Karyaku^_^

TAK HARUS MEMILIKI”

            “Pyaaaarrrr,..!” Memecah keheningan di malam sunyi senyap itu. Aku mulai menyadari segelas air putih luput dari genggamanku, aku merunduk dan segera membersihkan pecahan dengan separuh nyawaku. Malam ini entah kemana arus pikirku, hanya ada dia. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan jika aku bertemu dengannya nanti. Aku mengumpulkan serpihan - serpihan kaca, menguatkan diri untuk berdiri dan membuangnya. Dalam hatiku berkata, dapatkah aku membuang pikiran – pikiran bodohku seperti aku menguatkan diriku untuk membuangnya ke keranjang sampah? Bodoh, tak sepantasnya aku seperti ini, terpuruk dalam ketidak pastian, menanti sesuatu yang sebenarnya tak ku tahu apa yang ku nanti. Sudahlah, sebaiknya aku segera memejamkan mataku sebelum semua pikiranku menghilang tanpa arah.
            Aku mulai memejamkan mataku, terbayang kerutan - kerutan diraut wajahnya, senyuman manis bibirnya, teduh pandangan matanya, alunan suara yang menenangkan hati, dan segala hal yang pernah kita jalani bersama, perlahan – lahan memenuhi banyang semuku, bagai rekaman CD yang terlihat sangat jelas. Aku mulai jengel dengan bayangan – bayangan yang kini membuatku gila, ku ambil obat tidur dan segera aku melumatnya. Kurebahkan tubuh di ranjang kenanganku bersama sudara kembarku, dan benar tak beberapa lama obat itu mulai bereaksi. Malam ini tak ada bunga tidur yang menemaniku, hanya aku dan  boneka – bonekaku.
“Sayang, bangun nak, matahari sudah tak sabar menunggu sapaan darimu,” Terasa belaian lembut menyentuh pipiku, membuka selimut, dan membantuku untuk mengambil posisi siap beranjak. Dengan langkah malas – malasan aku melangkah menuju kamar mandi dan bersiap siap untuk kuliah. Mama dan papa sudah menantiku di meja makan, menunggu kehadiranku seperti biasanya, di keluargaku memang sudah biasa makan pagi bersama, layaknya tradisi, hanya saja kini tak seperti 4 bulan yang lalu. Biasanya kami makan berempat, papa, mama, Kak Cheri ( saudara kembarku ), dan aku. Kak Cheri sudah bahagia bersamanya, dan sebentar lagi aku akan menjadi tante. Tante dari anak saudara kembarku, Kak Cheri memang menginginkan menikah muda, entah apa alasannya, kakak belum sempat memberitahuku, mungkin karena kesibukan kakakku.
            “Tin…tin,…” Suara klakson mobil Rere terdengar lembut menyapa telinga kami, aku beranjak dari singgasanaku, menyambar sepotong roti dan tas kesayanganku. “Ma, pa,.. Cherina berangkat,” sambil lari menuju pintu depan. “Ehem,” deham mama padaku, aku berbalik arah dan mencium pipi mama dan papa. “Daaa mama,.” Sambil berlalu. Aku dan Rere melesat melintasi kompek perumahan rumahku. Rere memarkir mobil ditempat biasanya, di sebelah mobil Ryan, cowok yang selama ini selalu ada untukku. Baru saja melangkah beberapa langkah dari mobil kami, tiba – tiba ada sesosok yang merangkulku dari belakang. “Hai Cherina, hai Rere,” tanpa ada rasa canggung. Memang begitulah kami, bersahabat sejak SD, sampai sekarang, rasanya ingin ku pukul dia keras – keras ketika dia merangkul pundakku. Tapi dia selalu bisa menangkis segala jurus –jurus jitu yang kuandalkan, tak heran dia juara 1 lomba karate tingkat Nasional, dan dia adalah salah satu cowok pujaan cewek – cewek di kampus. Setelah jam kuliah kami usai, Rere mengajakku makan siang di cafe biasa, langanan kami dari SMA dulu, aku, Rere, Ryan, dan Kak Cheri. Disini aku juga mempunyai kenangan indah bersama dia, hanya aku dan dia.
***
Hujan turun sangat deras, aku dan dia memutuskan untuk mampir ke cafe ini, malam itu kami baru saja pergi ke salah satu toko buku yang cukup ternama di kota kami. Kami banyak berbincang – bincang disini, di meja nomer 9, kami berdua sangat senang pada nomer 9. Karena tanggal lahir kami sama- sama jatuh pada tanggal 9, dan kami menganggap bahwa angka 9 adalah angka keberuntungan kami. Deras hujan tak membuatku ingin meninggalkan tempat ini, apalagi berdua dengannya, rasanya aku sanggup hidup disini selamanya, hanya dengannya. Entah apa yang kupikirkan saat itu, yang jelas aku nyaman, tenang, senang dan damai ketika aku berada di sisinya. Setiap hari Om Dhimas menjemputku sepulang sekolah, tentunya menjemput kami berdua, aku dan Kak Cheri. Kebersamaan yang hangat, itu yang selalu kurasakan saat kami bersama, seperti saat ayah dan bundaku ada.
***
            Enam tahun lalu tragedi besar menimpa keluargaku, ayah, bunda, Kak Cheri dan aku, kami mengalami kecelakaan, dan alhasil ayah dan bunda kami meninggal seketika itu juga. Ketika kami sadar, aku dan Kak Cheri sudah berada di rumah sakit, ditemani oleh om – om yang asing di mataku. Ya, semenjak itulah aku dan Kak Cheri mengenal Om Dhimas, Om Dhimas selalu menolong kami dalam segala hal dan mencarikan orang tua asuh yang pantas untuk kami. Mama dan papaku yang sekarang. Om Dhimas tak pernah lupa menjenguk kami setiap Hari Senin dan Jumat, Om Dhimas selalu memberi kami oleh – oleh ketika datang mengunjungi kami. Kami selalu menunggu – nunggu kedatangan Om Dhimas, meskipun mama dan papa selalu memberikan kasih sayang yang amat besar. Biasanya Om Dhimas mengajakku dan Kak Cheri berlibur ketika hari minggu dan tentunya ketika Om Dhimas tak ada jadwal bekerja. Om Dhimas selalu membuatku tersenyum dan membuatku kagum, dari semua yang dia lakukan, tapi aku tak pernah bercerita pada Kak Cheri, karena ini tak boleh terjadi, aku tak mungkin bersamanya, dan tak mungkin juga dia mau denganku.
            Semenjak kecelakaan maut itu, Kak Cheri jadi sakit – sakitan, entah apa penyakitnya, yang jelas kakak sering pusing dan biasanya berkelanjutan, jadi Om Dhimas juga lebih sering main ke rumahku sekarang. Semakin aku mengenal Om Dhimas, semakin aku tak bisa menahan rasa yang ada di benakku. Entah kenapa Om Dhimas seperti malaikat yang sangat sempurna untukku, dan aku berharap Kak Cheri tak merasakan rasa yang sama sepertiku. Tapi sejauh ini, aku merasa bahwa Kak Cheri biasa – biasa saja dengan Om Dhimas. Malah aku yang paling dekat dengan Om Dhimas. Aku dan Om Dhimas mempunyai banyak kesamaan selain angka 9 tadi. Om Dhimas suka pedas, suka nonton, suka film horor, suka membaca novel, bercerita, dan makan, semua yang Om Dhimas suka, memang sudah aku sukai dari dulu, dan karena itu juga aku makin suka pada Om Dhimas. Om Dhimas memang terpaut jauh umurnya denganku, aku 18 tahun, dan Om Dhimas 32 tahun, namun dari sisi fisiknya, Om Dhimas belum terlalu tua kok.
            Aku tau perasaan ini sebenarnya tak boleh terjadi, aku tak menginginkannya, tapi apa daya, rasa itu timbul dengan sendirinya, makin lama ku tahan, makin sayang aku padanya. Hingga suatu saat Kak Cheri benar – benar sakit parah, kakak menderita kangker otak, dan itu membuat papa, mama, aku dan Om Dhimas makin tak memiliki waktu untuk bermain, ataupun berjalan – jalan untuk melepas penat. Sehari – harinya kami bergiliran menjaga Kak Cheri, berangsur – angsur kesehatan Kak Cheri semakin membaik, kami membawanya pulang ke rumah. Tentunya Om Dhimas tak tega meninggalkan kakak sendiri, sepertinya Om Dhimas memeng diberi amanah ayah dan bunda untuk benar – benar menjaga kami, tak ada kecurigaan sedikitpun yang melintas di benakku, yang terfikirkan adalah kakak harus segera sembuh.
            Kak Cheri memang mahasiswi terbaik di Universitasnya, dia hanya membutuhkan waktu 3 tahun untuk menyelesaikan kuliahnya. Kalau aku lebih memilih santai dan tak terburu – buru toh aku juga sudah punya Om Dhimas yang selalu disisiku, fikirku. Hari demi hari ku jalani tanpa canda tawa Om Dhimas, kali ini dia memang benar – benar sibuk karena banyak proyek yang harus dia selesaikan. Dan hal itu membuat kami jarang bertemu, belum lagi dengan setumpuk tugas – tugas kuliahku. Mungkin papa, mama dan Kak Cheri juga merasakan hal yang sama, tapi mungkin kehilangan yang mereka rasakan tak sama denganku.
***
“Halooo,… kamu gak papa kan Rin?” suara Ryan menyadarkan aku dari lautan anganku. “Oh,.. aku gak papa kok, cuma capek aja. Mungkin gara – gara semalem aku susah tidur,” meyakinkan Ryan dan Rere. “OK lah kalo kamu emang gak papa, tapi kalo kamu emang ada masalah, udah cerita aja ke kita, kita gak akan bocorin ke anak – anak kok, ya kan Re?” Rere mengangguk menyetujui pernyataan dari si Ryan sambil mengutak – ngatik Hpnya. “Eh Rin, besok kamu gak ada kuliah kan? Jalan yuk, aku pengen ke Pulau Sempu nih,” Aku hanya tersenyum kecil menanggapi ajakan Ryan sambil menyeruput jus faforitku, aku masih belum sadar seratus persen untuk diajak berdiskusi masalah nemenin si Ryan. “Yan, kamu gak ngajakin aku nih?” sela Rere dengan sedikit jengkel. “Ngapain aku ngajakin kamu, emang kamu mau jadi setan diantara aku sama Cherina? Hahhahaha…” Ryan tertawa bagai iblis yang berhasil menakhlukan mangsanya. “Sori Yan, aku gak bisa ikut besok, mungkin aku mau nemenin mama belanja. Dan besok, kami berrencana untuk mengunjungi rumah nenekku.” Sanggah Cherina. “OK deh, tapi kapan – kapan beneran ikut aku ya!” bujuk Ryan, aku hanya tersenyum sambil mengangguk.
            “Re, balik yuk, mama pasti udah  nungguin aku,” ajak Rere, “Ayo deh,..” sambil berlalu meninggalkan Ryan yang kini sibuk dikerumuni junior – juniornya. Tak sampai 15 menit, mobil Rere sudah memasuki garasi rumahku. Aku segera mencari mama, tapi jam segini biasanya mama sedang memasak di dapur, kalaupun sudah selesai, mama pasti nonton TV sambil menungguku pulang. “Ma,… Mama,..” aku berlari menuju dapur, memeluk, dan mencium pipi mama yang mulai terlihat garis – garis perkasa di raut mukanya. Setelahnya, aku tunggang landang menuju ke kamar, Rere sudah menungguku disana. Dia terbiasa berdiri di balkon kamarku, sambil mendengarkan musik kesukaannya lewat Mp3. Aku merebahkan tubuhku di sofa depan televisi kamarku, Rere mulai mendekat dan menatapku. “Aku tahu, semalam kamu kepikiran lagi kan? Mamamu menghubungiku semalam. Sayang, kamu tahu, aku disini bukan hanya sekedar main atau nemenin kamu atau ngabisin masakan mamamu, atau apalah. Tapi aku disini juga siap buat bantuin kamu, pasti gara – gara Om Dhimas ya?” terawangan Rere menusuk tulang rusukku. “Oke, aku emang belum bisa nglepasn dia Re, kamu tau kan, dari awal aku liat dia, aku udah yakin kalo dia bakalan jadi punyaku, tapi apa sekarang?” buih-buih air mata kini tak terbendung lagi. “Please, bantu aku, biarin aku jaga perasaan aku buat dia!” Aku benar – benar memohon pada Rere. Rere hanya bisa menghembuskan nafasnya panjang – panjang dan menggeleng – geleng. “Kamu punya rencana apa?” tanyanya. Aku hanya menggeleng tak tahu harus berbicara apa.
***
Beberapa bulan setelah Kak Cheri sembuh, tiba – tiba ada kabar bahwa pesawat yang dinaiki papa mengalami kecelakaan dan jatuh ke laut.  Hingga hari itu jenazah papa belum diketemukan.  Tiga hari setelah kejadian itu, mama berbicara pada Om Dhimas, entah apa yang mereka bicarakan. Namun aku merasa hal itu sangat penting dan rahasia, karena aku diminta meninggalkan mereka ketika mereka berbicara. Sekali lagi, aku dikagetakan oleh teriakan Mbok Ijah, aku lari menuju suara mbok. Aku kaget ketika melihat kakak sudah terkulai lemas di lantai tak sadarkan diri. Aku sangat takut, padahal, kakak baru saja sembuh. Tak lama kemudian mama dan Om Dhimas membawa kakak ke rumah sakit. Aku memaksa untuk diizinkan masuk ke dalam ruang UGD, tapi hasilnya nol. Aku menyimpan beribu – ribu pertanyaan di otakku. Ketika dokter keluar kami langsung menyerbunya. Dan keadaan kakak kini krisis, “Dhimas, mama minta tolong, segera nikahi Cheri, kamu mau melihat Cheri seperti ini?” Aku terpaku mendengar ucapan mama barusan, apakah benar yang mama katakan tadi? Apakah ini yang mereka bicarakan tadi? Aku benar – benar hampa, hancur berkeping – keeping ketika Om Dhimas mengiyakan permohonan mama.
            Aku berbalik badan dan lari secepat yang ku bisa. Air mataku tak kuasa lagi kutahan, “Kenapa Tuhan? Kenapa harus aku?” kini buih - buih membasahi seluruh pipiku. Dunia serasa berhenti, hancur, dan tiada gunanya lagi aku hidup. Ketika aku berhasil meredam amarahku,  suster memanggilku dan mengatakan jika kakak siuman. Aku mencoba untuk menguatkan diri, atas semua yang akan terjadi nanti. Ternyata di dalam sudah ada mama dan Om Dhimas yang sudah ada di sisi kakak. Aku segera memeluk kakak dan menangis di bahunya yang terasa sangat lemah. Dan ternyata disana aku melewatkan satu moment penting yang hanya terjadi sekali. Aku merasakan cincin di jemari kakak sebelah kiri, “Apa maksutnya, apakah mereka sudah tunangan, oh Tuhan, kuatkan aku!” lagi - lagi air mataku menetes dengan sendirinya. Aku memberanikan diri untuk bertanya, “Kakak dan Om Dhimas sudah tunangan?” mereka tersenyum dan mengangguk menjawab keingin tahuanku. “Kakak akan menikah minggu depan,” terang mama. “Selamat ya kak, om, semoga kakak dan om bisa jadi keluarga yang bahagia, selamanya.” Ucapku pada mereka. Kakakku tersenyum sangat lebar dibalik kelemahannya. Usainya, mama memintaku untuk pulang dan beristirahat, akhirnya aku memutuskan untuk pulang sendiri dengan taxi.
            Sesampainya di rumah, aku duduk di sofa ruang tengah. Aku cukup lelah menghadapi semua ini. Aku tak tahu harus berbuat apa, aku bingung harus bagaimana, dan aku benar – benr tak ingin tahu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mencintainya, aku suka dia dari awal aku menatap matanya. Tapi sekarang, aku bisa apa? Kakakku sudah dalam keadaan kritis, orang yang aku sayangi akan menikah dengan kakakku sendiri, papaku baru saja meninggal, apa lagi Tuhan? “Plok!” suara buku diary jatuh di samping kaki kiriku. Bertuliskan CHERI PUTRI TUNGGADEWI. Batinku mulai berdebat, apakah aku harus meletakkannya lagi, atau haruskah aku membukanya? Pikiranku buntu, rasa ingin tahuku lebih besar daripada niatan untuk mengembalikan ke tempat awal buku itu diletakkan. Jemari – jemari tanganku lincah tertuju pada halaman terakhir yang ditulis kakakku.
21 – 10 – 2009
Dear diary,
Cheri seneng liat Cherina bisa normal kaya dulu lagi, terimakasih Tuhan, Engkau telah memberikan banyak malaikat untuk kami, Om Dhimas, papa, mama, mbok ijah temen – temen dan semuanya yang nyemangatin Cheri. Cheri tahu, umur Cheri gak akan panjang, tapi sebelum Cheri meninggal, Cheri ingin menikah dengan orang yang Cheri sayang .

                                                                                                            < OM DHIMAS >

“Tuhan, kenapa Engkau menunjukkan ini pada hamba? Apakah hamba bisa menerima semua ini? Tuhan, tunjukkan jalanmu,..!”
            Enam hari telah berlalu, semua sibuk mempersiapkan pernikahan Kak Cheri, aku hanya membantu yang ringan – ringan saja. Kalau sedang tidak ada tugas kuliah atau terpaksa saja aku membantu. Hari ini memang benar – benar sibuk, apalagi besok. Pernikahan kakakpun dimulai, mereka melakukan ijab qabul dan melakukun rentetan acara dengan khusyuk. Tak sepatah katapun yang bisa ku ucapkan, tak sepatah katapun yang muncul dari bibirku. Entah kenapa, rasanya aku kehilangan seluruh keberanianku hingga tak bisa bericara.
***
“Ya udah deh Rin kalo loe emang gak mau ngomong, aku balik dulu ya,..”mamiku udah nungguin aku, katanya sih suruh nganterin ke salon, kamu mau ikut gak?”
“Gak deh, aku di rumah aja, siapa tau mama juga lagi butuh aku,”
“Aku pulang ya,.. bye,..!”
“Iya, ati – ati Re,.. Salam ke mami loe,..”
            Rere berjalan menuju pintu depan, dia melewati sesosok pria yang terlihat tak asing. “Dek Rere kan? Cherina ada?” tanyanya,.. “Oh, ada om, masuk aja, tante lagi di belakang om,..” Jawab Rere dengan sedikit mengingat – ingat siapa gerangan om – om ini? Om Dhimas berjalan masuk dan menuju tangga. Sepertinya Om – om itu tadi menuju kamar Cherina. “Aku boleh masuk?” Tanya Om Dhimas, aku hanya mengangguk tak menyangka. “Hari itu sebenarnya aku ingin melamarmu,” aku tersentak mendengar perkataan Om Dhimas. “Aku tahu, aku salah, tapi kakakmu membutuhkan aku, dan bukan berarti aku tak membutuhkan kamu. Mungkin aku tak sepantasnya berkata seperti ini, aku hanya ingin mengatakan sejujur – juurnya, bahwa aku cinta kamu, aku suka kamu, aku sayang kamu. Benar jika ada yang bilang, cinta tak harus memiliki. Tapi apa yang ku dapat? Sakit dihatiku, dan aku hanya bisa menyakiti hati kakakmu dengan semua kebohonganku. Aku berusaha menyayanginya, tapi apa? Aku tak bisa melupakanmu. Maafkan aku.”  Om Dhimas pergi berlalu setelah mengungkapkan isi hatinya. Aku terperangah dan tak tahu harus berbuat apa. Kenapa dia harus memilih kakak? Kenapa dia harus menikahi kakak? Kenapa harus berbicara padaku tentang semua kebenarannya? Aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya ada di pikiran dia.
            Setelah menyelesaikan kuliah S1, aku  memutuskan untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, supaya dia bisa jauh darinya, dan jauh dari kenangan – kenangan yang pernah ada. Kini aku memulai kehidupan baru, tanpa dia, aku bisa, dan aku yakin, suatu saat nanti aku akan menemukan yang lebih baik daripada dia. Dan aku hanya bisa berdoa, semoga Kak Cheri bisa menyayangi Om Dhimas seperti dulu aku menyayanginya, dan begitupula dengan Om Dhimas.

“TAMAT”

Sabtu, 15 Oktober 2011

"Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin"

            Okey, kali ini saya mau membahas tentang buku yang saya baca di penghujung tahun 2010 kemarin. Judulnya ‘Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin’ karya penulis favorit saya Om Tere Liye. Awalnya sih ke toko buku buat nyari buku ketiga dari tetralogi Anak-anak Emak karya Om Tere. Di bukunya yang kedua, katanya buku ketiga akan terbit bulan Oktober 2010. Tapi sampai sekarang ga terbit-terbit. Hmm.. Pembaca kecewa… Hehehe.. Daripada pulang dengan tangan hampa, akhirnya saya memutuskan untuk beli buku Om Tere yang udah lama saya incer juga. Ya, buku yang mau dibahas ini.
Overall, masih sama seperti buku-bukunya yang lain, di buku ini Om Tere juga menyajikan cerita bercita rasa ‘keluarga’. Yap, itulah istimewanya buku-buku Om Tere. Selalu mengangkat tema keluarga, di tengah-tengah novel-novel yang mengangkat tema cinta ababil alias abege labil yang –maaf- agak kurang bermutu dan ga ada pelajaran moralnya.
           Tapiiii.. Ada yang cukup beda di novel Om Tere yang satu ini. Selain keluarga, Om Tere juga mengangkat masalah cinta. Namun, tentu saja bukan cinta ababil, tapi cinta yang penuh dengan misteri. Hehe.. Buat para perempuan yang punya idola cowok-cowok yang lebih tua, pasti pas banget baca buku ini. Dan buat para cowok yang gengsian banget buat menyatakan rasa cinta kepada sosok wanita idamannya, hanya karena alasan yang ‘sebenernya ga penting deeh’, juga pas banget buat baca buku ini. Pokoknya jangan sampai menyesal di akhir, seperti yang dialami Kak Danar, tokoh di novel ini.
Untuk alur ceritanya, Om Tere pake sistem maju-mundur. Yang bercerita di sini adalah seorang perempuan berusia 22 tahun (kurang lebih yaa..) bernama Tania (di novel ini dia yang menjadi ‘AKU’). Trus tokoh lainnya juga ada Dede (adiknya Tania), Ibu, Kak Danar (di novel ini dia yang menjadi ‘DIA’), Kak Ratna, dan beberapa figuran. Agak bingung? Yap, yap.. Kalau ga bingung di awal, bukan novel Om Tere namanya… Hehehe..
           Buat saya, seorang penggemar berat buku-bukunya Om Tere, buku ini so special.. Kenapa? Karena Om Tere jarang-jarang mengangkat tema cinta. Emang siih, biasanya Om Tere cerita tentang cinta, tapi dalam lingkup keluarga. Cinta dari ibu, ayah, kakak, adik, om atau tante. Tapi untuk novel ini, Om Tere cerita tentang cinta antara kaum Adam dan Hawa. Hhuhuy… Teruuus, setingan tempatnya di Depok, tepatnya di Margonda. Menurut analisis aku siih (ihiy), tempatnya di Gramed Margonda. Yah, jadi bisa ngebayangin aja gitu.. Hehe.. Novel ini juga ngajarin kita buat selalu ikhtiar. Soalnya, pemeran utama novel ini awalnya cuma pengamen miskiiin banget, tapi seiring jalan, dia dapet beasiswa ASEAN untuk sekolah di Singapura dan jadi pekerja di bursa efek Singapura. Keren deh.. Yang terakhir, akhir novel ini ga happy ending. Jadi buat yang ga suka novel yang ga happy ending, mending jangan baca, entar kecewa. Hehehe..
Buat para penggemar novel, novel ini bisa jadi alternatif lain, di antara novel-novel teenlit yang gitu deeh… Hehehe.. :p
            Buat para penggemar novel-novel Om Tere, novel ini akan memberikan warna berbeda dari novel-novel Om Tere yang lain.
This book is very recommended .. :D
ini dia cover bukunyaaa...
ini dia cover bukunyaaa…

Rabu, 12 Oktober 2011

H-15

"BULAN BAHASA BERSAMA IWAN SETYAWAN"
"9 SUMMERS 10 AUTUMNS"
^_^

alhamdulillah,..
sponsor kami "pocari" mendukung acara kami,..
semoga acara kami bisa berjalan dengan sangat memuaskan,.
amin,..

Selasa, 11 Oktober 2011

lyric "the day you went away"

Well I wonder could it be
When I was dreaming 'bout you baby you were dreaming of me
Call me crazy call me blind
To still be suffering is stupid after all of this time

Did I lose my love to someone better
And does she love you like I do
I do you know I really really do

Well hey so much I need to say
Been lonely since the day
The day you went away
So sad but true
For me there's only you
Been crying since the day
The day you went away

Oh whoa .... yeah... oh...ooh...

I remember date and time
September twenty-second Sunday twenty-five after nine
In the doorway with your case
No longer shouting at each other
There were tears on our faces

And we were letting go of something special
Something we'll never have again
I know, I guess I really really know

Well hey so much I need to say
Been lonely since the day
The day you went away
So sad but true
For me there's only you
Been crying since the day
The day you went away
The day you went away
The day you went away

Oh whoa .... yeah oh

Did I lose my love to someone better
And does she love you like I do
I do you know I really really do

Well hey so much I need to say
Been lonely since the day
The day you went away
So sad but true
For me there's only you
Been crying since the day
The day you went away

Why do we never know what we've got till it's gone
How could I carry on
The day you went away
Cause I've been missing you so much I have to say
Been crying since the day
The day you went away

The day you went away
The day you went away
oh whoa .. yeah oh

ceritaku H-16

hari ini target kami <kelas bahasa> ngirimin MOU ke Toga Mas dan menemui salah satu sponsor kami,..
tapi apa daya,..
karena seorang yang benar benar buat aku muuangkel, salah satu sponsor kami gagal ku temui,..
gara" itu orang juga,..
semua jadi berjalan gak seperti seharusnya,..
terimakasih ya,..! >_<

Senin, 10 Oktober 2011

cerita

kali ini H-17,..
rasanya dek dekan,..
pengen cepet selesai,..
tapi takut juga,..
oya,..
Kami penghuni XI Bahasa ngadain acara "BULAN BAHASA" dengan tema "Bahasa Indonesia Wujudkan Inspirasi Karya Anak Bangsa".
puncaknya tanggal 27 Oktober. dimeriahin sama Iwan Setyawan, Flakustik, dan Drama Nasional,..
dateng yuuk,...
biaya pendaftaran hanya Rp15.000,00 kok,..
tiket terbatas loo,..^_^
bisa dibeli di MAN 3 MALANG, kelas XI Bahasa atau kesekertariatan di sebelah pintu gerbang MAN 3 Malang...

Kamis, 06 Oktober 2011

resensi 9 summers 10 autumns

9 Summers 10 Autumns: resensi

Baru saja saya selesai membaca buku “9 Summers 10 Autumns” (atau saya sebut saja 9/10) karangan Iwan Setyawan. Buku ini saya beli beberapa hari yang lalu dan sekarang sudah tamat. Artinya buku ini saya sukai karena bisa mengalahkan kebosanan saya dalam membaca :)   Ada banyak buku, novel, yang menurut orang bagus-bagus tapi belum selesai saya baca.
Buku ini bercerita mengenai diri Iwan sendiri, sebuah otobiografi. Lucunya, di dalam buku ini Iwan becerita kepada seorang anak kecil yang mula-mula dia temui ketika dia dirampok di New York. Mengapa bercerita kepada anak kecil? Saya hanya bisa menduga-duga.
Bercerita kepada seorang anak kecil yang dekat kepada kita akan menghilangkan kesan arogan (menceritakan kehebatan kita) dan menghilangkan kesulitan bercerita mengenai hal-hal yang bersifat privat (yang sulit diungkapkan). Sebagai contoh, Iwan lebih mudah untuk mengatakan “Aku kangen bapak“, kepada anak kecil itu daripada dia langsung berkata kepada pembaca. Bagian “aku kangen bapak” merupakan bagian yang paling saya sukai dalam buku ini.
Ah, saya baru ingat. Saya ingin membuat otobiografi saya dan tidak pernah berhasil. Ada banyak hal yang sulit saya ceritakan. Mungkin menggunakan media anak kecil ini merupakan sebuah solusi? Entahlah. Penggunaan anak kecil ini juga mengingatkan saya akan film The Kid, yang dibintangi oleh Bruce Willis.
Enough about the kid. Mari kita diskusikan hal lain.
Cara Iwan bercerita berkesan seperti dia sudah sering menulis buku! Tidak terlalu bertele-tele tapi juga tidak kering. Ini berbeda dengan cara saya menulis yang terlalu to the point (dan akibatnya menjadi kering). ha! Lihat saja resensi ini untuk melihat cara saya menulis. ha lagi! Cara Iwan menulis mungkin yang membuat saya bisa menyelesaikan buku ini dengan cepat, tetapi tidak terlalu buru-buru.
Buku ini membuat saya bersemangat untuk menulis buku lagi. Saya pikir riwayat hidup saya juga banyak yang menarik (dan bahkan lebih banyak yang bisa diceritakan). Saya tadinya berpikir bahwa kehidupan saya tidak menarik bagi orang lain, tetapi setelah membaca buku Iwan saya jadi banting setir. Banyak yang bisa saya ceritakan dari kehidupan saya. Hanya saja saya masih harus belajar untuk becerita.
Tentu saja bagi yang berharap buku ini memiliki ketegangan ala cerita action akan kecewa. Buku ini lebih kalem. Membaca buku ini seperti mendengarkan lagu-lagu opera yang dibawakan oleh Pavarotti daripada mendengarkan musik cadas band Kiss. Oh ya, dari cerita di buku ini saya jadi tahu bahwa Iwan memang menyukai teater dan opera. Bahkan teaterlah yang menjadi obat untuk mengatasi tekanan atas kemiskinan masa kecilnya.
Hal lain yang menarik bagi saya adalah saya menangkap kesan kesepian (loneliness) dalam kehidupan Iwan di Amerika. Ketika saya baru memulai hidup di Kanada, saya merasakan hal yang sama. Hal ini sukar untuk saya ceritakan kepada orang yang belum pernah mengalaminya. Kebanyakan orang tinggal di luar negeri untuk jangka waktu yang “singkat”, 2 atau 3 tahun. Bagi yang tinggal lebih lama, katakanlah 10 tahun, maka hal ini dapat dirasakan dan dimengerti.
Hmmm … sebetulnya tulisan ini berisi tentang resensi buku Iwan atau tentang diri saya sih? Hal yang menarik dari membaca buku atau mendengarkan musik adalah kita menjadikannya sebagai hal yang personal, yang menjadikan bagian dari sejarah kehidupan kita. Kita mengguratnya di sebuah titik dalam perjalanan waktu (time space). Apa artinya, that book made a dent in somebody’s life. Iwan, selamat atas keberhasilan ini.
Mengenai ceritanya? Ya tentang Iwan. Dia dilahirkan dari keluarga sopir yang di kota Batu, Jawa Timur, (kota Apel). Dengan keterbatasan yang ada, sangat sulit untuk diramalkan bahwa akhirnya dia bisa menjadi salah seorang manager di perusahaan raksasa di New York (The Big Apple). Bagaimana mungkin? Cerita tentang perjuangan dia dan keluarganya dapat menjadi insipirasi atau motivasi bagi para pembaca. Daripada saya menceritakan detailnya di sini, silahkan baca bukunya saja deh. Tentu saja lebih bagus ceritanya di sana :)
Nilai akhir? Bagi saya buku ini bernilai 4,5 dari skala maksimum 5. Mengapa tidak bernilai 5? Sebetulnya alasannya mungkin agak silly. Kalau saya berikan nilai 5, atau nilai maksimum, maka hal ini akan menjadi bumerang bagi Iwan. Dia akan mengalami stress untuk membuat buku lagi yang bisa mengalahkan buku ini. How do you top 5 out of 5? Akibatnya mungkin Iwan tidak mamu membuat buku lagi. Padahal kita semua menantikan buku berikutnya. Nah, kalau diberi nilai 4,5 kan berarti masih bisa buat buku yang nilainya 5. ha ha ha.

Rabu, 07 September 2011

RESENSI Breaking Dawn



Eclipse: Gerhana
Oleh: Stephanie H. Meyer
ISBN    :    9789792240528
Rilis    :    2008
Halaman    :    688p
Penerbit:    Gramedia
Bahasa    :    Indonesia
Rp.70.000



resensi new moon^_^


Kisah diawali dengan cerita Bella yang akan ulang tahun, Edward punya rencana untuk membuat perayaan ulang tahun Bella yang ke-18. Berbagai rencana disusun namun Bella menolak mentah-mentah semua rencana perayaan Ultah-nya dan tak mau menerima hadiah sekalipun. Karena dengan ulang tahun yang ke-18 ini menandakan dia berumur “lebih tua” setahun dari Edward yang berumur “17”.

Saat keluarga Cullen membuat rencana dirumahnya, Bella akhirnya tak kuasa menolak, berbagai hadiah di siapkan oleh seluruh “keluarga” Vampire saat berkumpul dirumah pinggir hutan tersebut. Pesta berjalan lancar hingga saat Bella membuka salah satu kado tipis, yang tak sengaja melukai tangannya…dimana semua Vampire saat itu merubungnya..

Hampir semua Vampire menahan napas, tak terkecuali Edward, namun rupanya Jasper yang bermasalah dengan “diet”-nya tak kuasa mencium darah Bella, melihat reaksi Jasper yang membabi buta hingga beberapa pecahan kaca hancur dan melukai tangan Bella, reflek Edward melindungi Bella dari serangan Jasper dan Vampire yang lain memegangi Jasper sekuat tenaga. Sambil menahan napas, Edward membantu Bella berdiri dan ditangai dr.Cullen. Esme yang keibuan dan lembutpun tak bisa menyembunyikan ke-vampirannya dengan menahan napas demi melihat darah segar yang mengucur dari lengan Bella. Hanya dr. Cullen yang sepertinya sudah kebal dengan bau darah.
Setelah insiden tersebut, Edward lebih banyak diam dan berpikir. Kedekatannya dengan Bella sepertinya menjerumuskan Bella kedalam jurang yang makin kelam dan itu sangat tidak baik bagi kelangsungan hidup Bella selanjutnya. Dengan alasan “demi keselamatan” Bella, Edward dan keluarga dr. Cullen akhirnya memutuskan untuk pindah ke LA. Edward meninggalkan Bella..dan dimulailah mimpi buruk Bella di setiap tidur malamnya.
Hingga berbulan-bulan…
Di bulan ke-5, Bella mulai bisa berpikir sedikit jernih, dia menemui sahabat kecilnya Jacob Black, untuk mengusir semua mimpi buruk dan membuka lembaran baru hidupnya yang kelam setelah kepergian Edward. Bella mulai bisa tersenyum lagi dan hari-harinya kembali sedikit bersemangat.
Saat hiking sendiri ke hutan mengunjungi telaga sabit tempat dulu sering bertemu Edward, Bella tak sengaja bertemu dengan Laurent, Vampire teman James yang dulu sempat membuatnya berdarah-darah karena “permainan”dengan keluarga dr.Cullen. Saat Laurent akan menghabisi Bella, serombongan Serigala raksasa datang menyelamatkan Bella, melihat lawan yang tak sebanding, Laurent akhirnya kabur. Bella masih syok dengan apa yang dialamainya. Aneh, serigala raksasa itu tidak tertarik dengannya!
Makin kalut pikiran Bella karena Jacob Black yang biasanya periang berubah menjadi bengis dan tidak bersahabat. Keadaan yang membuat-nya makin terpuruk, tak ada lagi teman..ada apa dengan Jacob?
Bella makin kalut karena omongan Laurent yang menyebut bahwa Victoria, vampire pasangan James masih memburunya…
Kisah kemudian menggelinding sampai akhirnya Bella bertemu lagi dengan Edward di sebuah kota di Italia, sebuah kota kecil, tua yang dikelilingi gedung-gedung tua bernama Volterra…yang dikuasai oleh “keluarga” vampire tertua bernama Volturi, yang berkuasa sejak zaman Etruria, lebih dari 3000 tahun yang lalu..
Apa sebenarnya yang menyebabkan Edward bisa berada di kota sarang Vampire tersebut? Dan kenapa Bella bisa sampai di Italia? Tentu saja di New Moon ini jawabanya.
Kelebihan Novel ini:
Kisah keteganganya mengena dan terjaga, meskipun kurang detil dan tidak ada klimaks dalam menggambarkan pertarungan antara Vampire dan Srigala raksasa-nya, juga saat Bella berada di sarang Vampire di Italia. Mungkin karena yang nulis perempuan yang dia berusaha tidak mengumbar kekerasan dan kengerian disana-sini, ingat ini novel roman, bukan murni Vampire seperti kisah Dracula Van Helsing-nya Bram Stoker.
Kekurangan Novel ini:
Ada sedikit kekonyolan, yaitu saat Bella dan Alice naik pesawat ke Italia.
Alice sudah mengangkat telepon dari punggung kursi didepannya sebelum pesawat berhenti menanjak, sengaja memunggungi pramugari yang menatapnya tidak setuju. Namun sesuatu di ekspresiku membuat pramugari itu mengurungkan niatnya untuk menegur kami. Aku berusaha menulikan telinga dari bisik-bisik Alice dengan Jasper; aku tak ingin mendengar kata-katanya lagi…”(hal. 451)
Hah, didalam pesawat yang lagi take off, Alice bisa menelepon Jasper? Yang benar saja?!
Meskipun banyak kekonyolan disana-sini namun hal tersebut tidak mengurangi kenikmatan mengikuti kisah Vampire “vagetarian” ini. Dari situs resmi-nya Stephenie Meyer, kabarnya akan ada sekuel tambahan setelah Eclipse dan Breaking Dawn yang berjudul Midnight Sun.
Walah..apakah Tante Stepheni ini mau ngikutin jejak “spektakulernya” sinetron legendaris kita Tersanjung? Mudah-mudahan sih kisahnya tidak maksa. Karena biasanya sebuah sekuel yang dipanjangkan akan ada semacam sindrom memaksakan kisah yang seperti dibuat-buat hingga tidak bisa dinikmati lagi.

resensi "TWILIGHT"

Okreh, kembali ke laptop Novel Twilight-nya Stepheni Meyer. Novel ini sebenernya menurut aku terlalu mengedepankan perasaan, ya..secara ditulis dari sisi tokoh utamanya Isabella Swan yang diceritakan gadis muda umur 18-an dan belum pernah merasakan pacaran, nah loh!. Jadi ceritanya sangat melankolis dan mendayu-dayu. Bella pindah dari kotayang penuh cahaya matahari Phoenix ke kota muram yang sering hujan dan masih dikelilingi hutan lebat; Forks. Kepindahan Bella ini karena ingin mamanya Renee yang menikah lagi tidak terganggu pernikahannya dengan Phil, suami kedua-nya. Bella memilih tinggal bersama Charlie, Ayah biologisnya di Forks.
Semula tinggal di Forks seperti memenjarakan diri dengan sengaja, tapi semua berubah ketika Bella bertemu dengan serombongan keluarga dr.Cullen di Sekolah SMU barunya di Forks. Dan salah satu dari kelurga itu yaitu Edward Cullen yang digambarkan memiliki ketampanan yang jahat,dingin namun misterius dan sempurna. Keluarga dr.Cullen yang semuanya Vampire, adalah Vampire yang tidak memangsa manusia..(ada-ada ajah ya!) tapi cuma binatang, sehingga mereka gemar berburu di hutan.
Singkat cerita Bella akhirnya pacaran dengan Edward dan Bella sedikit demi sedikit mengungkap jati diri Edward dan keluarganya. Kebanyakan penduduk Forks tidak ada yang tahu bahwa keluarga dr.Cullen adalah Vampire! Hebat kan?
Rasa penasaran Bella yang menggebu-gebu khas anak muda, membawanya dalam hubungan yang lebih rumit dan dalam dengan Edward. Dan katika ada Vampire dari Koloni lain yang pemburu manusia datang, masalah kemudian timbul. Keluarga Cullen yang sangat membela Bella menjadi sesuatu permainan yang sangat menarik bagi Koloni tersebut. Akhirnya Bella menjadi target buruan bagi koloni tersebut dan Keluarga Cullen tentu saja membelanya mati-matian (eh, Vampire kan udah mati ya..?!).
Lantas bagaimana kisah selanjutnya..jreng-jreng…silakan baca sendiri di Novel Twilight..hehehhe…
Gak seru dong, kalo tak ceritan semua, ntar kejutan-kejutannya jadi gak asik lagi pas baca, karena udah di kasih tahu..ya gak siii…

Gara gara tugas Bahasa Indonesia




aku mau cerita lagi nii...
29 Juli 2011.
Aku, Bella, Nizar, menjadi satu kelompok dalam tugas Bahasa Indonesia <wawancara>.
Awalnya, kami akan mewawancarai staf sekolah kami, tapi menurut kami,..
ahh,..
itu hal biasa,..
kami memutar otak kami,..
berpikir, siapa yang kiranya pantas kami wawancarai, dan yang kiranya menarik hati pembaca atau teman teman kami.
Oke, tiba tiba muncul ide konyol yang berasal dari mulut salah satu dari kami,.. ********* ^_^
"Gimana kalo Alvin, Idola Cilik angkatan ke 3?" cetusnya,..
tanpa pikir panjang kami menyusun pertanyaan pertanyaan yang kiranya akan kami lontarkan.
hari itu juga kami berangkat ke rumahnya, dan kami pikir pikir, rumahnya tak terlalu jauh dari sekolah kami, hanya saja, kami belum tahu letak pastinya.

kiranya kami berangkat pukul 15.30 dengan angkot yang berjalan bagai siput kelaparan.
hufft,..
dengan segala kesabaran yang kami kerahkan, kami berhasil mengalahkan segala niatan untuk KABUR!
kami sampai di jalan yang kami ingin, tapi bukan nomor 1 yang kami cari. dan parahnya lagi, kami harus mencari nomer 49 <ya sebut saja nomer sekian>. semangat jiwa muda kami berkobar,.
hahhaha <lebay!> kami berjalan dan menemukan alamat yang kami mau. dan ternyata, bukan rumah itu tempat kediaman Alvin Jonathan Sindunata. 3 rumah kami singgahi, dan mereka mengaku tak mengenalnya,..
"Masa' artis kondang gitu gak ada yang kenal? jangan jangan emang mereka sekongkol nyembunyiin Alvin?"
pikiran kami melayang gak karuan.
Untuk terakhir kalinya, aku janji. "udah, skali lagi aja tanya di ibu itu, kalo gak kenal, kita pulang sekarang!" cetusku.
kami memberanikan diri untuk mengakrapkan diri dan "dooor!" tepat sasaran. Ibu yang satu ini tau dimana Alvin tinggal. Oke,.. Kami jalan lagi kesana, dan,..
huft,.. ALVIN BELUM PULANG SEKOLAH, nafas kami terengah engah menahan amarah.
sabar sabar,... batinku,..
namanya juga artis,..
ya,.. maklum lah,.. padahal jam menunjukkan pukul 17.00. akhirnya, kami buat janji akan kembali pukul 20.00.

kami menyusuri jalan yang berliku liku tak bersahabat, melewati sebuah taman kecil yang indah,..
muncul niatku untuk mewawancarai sekelompok fotografer yang sedang mengambil gambar seorang model cantik. Lagi,..
tanpa pikir panjang kami menghampiri mereka.
Dan lagi, aku yang di timpalin tugas dadakan, sebagai wartawannya.
tanpa persiapan yang banyak, hanya berbekal NEKAT yang ada saat itu.
tak heran, wawancara kami berjalan tak semestinya.
=D emang gila kelompokku ini,.. ya,. termasuk aku juga,..
tapi mau gimana lagi,.. lusa tugas harus dikumpulkan.
Kiranya cukup pertanyaan pertanyaan yang aku ajukan. kami berterimakasih dan tentunya, minta foto bersama <sebagai kenangan gila, dan sebagai bukti kami> ^_^

(pulang)

Pukul 20.00 aku dan Bella di jemput kawan kami, Nizar, untuk kembali ke rumah Alvin,..
dengan membawa harapan, semoga hal hal buruk tak menimpa kelompok kami.

sesampainya disana, kami mendapat masalah lagi.
Alvin pulang ke  rumah neneknya. kami minta alamat, dan segera meluncur kesana.
lagi lagi dengan bekal "NEKAT".
alhamdulillah, kami sampai, setelah memutari jalan sepi perumahan mewah. kiranya 21.00 kami baru menemukan alamat nenek Alvin.
^__^  bersyukur, bisa mewawancarai bintang kecil yang kini tak bisa dibilang kecil lagi,..^_^
Sangat Puas. itu yang kami rasakan setelah menyelesaikan tugas kami. Apalagi bisa mengumpulkan tepat waktu.
dan kami mengalami banyak pengalaman baru yang GILLAAA,...=D

                                                                                *TAMAT*

Selasa, 06 September 2011

precet in love^_^

kali ini ponram di sekolahku berbeda dari tahun tahun lalu.
angkatan kami (2010-2011) mengikuti ponram pertama di precet dawu,..^_^
3 hari lamanya kami menginap disana, mencari pengalaman baru,..
yang tentunya belum kami jumpai di Malang, atau bahkan kota kami masing masing.
kami dibagi menjadi group group kecil,..
per kelompok, beranggotakan 5 sampai 6 orang.

hari pertama, kami cukup lelah dengan perjalanan kami, jadi hari itu, kami memulainya dengan mengenal orang tua asuh kami dan mengenalkan diri kami pada keluarga mereka.
Keluarga Bapak Mintono, itulah orang tua asuh kami.
Oya, kelompokku beranggotakan 5 siswi, Aku, Bella, Faza, Riska, dan Atika...
kami berasal dari 2 kelas yang berbeda, BAHASA, dan IPA. meski begitu, kami sangat akrab satu sama lain...

Hari kedua, kami memulai dengan memerah sapi keluarga Bapak Mintono, jalan jalan bersama warga MAN 3 MALANG, dilanjutkan dengan memetik kopi, bermain di sungai, menganyam, sampai kami terlalu lelah, kamipun beristirahat untuk mengembalikan kondisi kami. Hari yang panjang, dan sangat menyenangkan. Sore harinya kami membantu Bu Mintono menyiapkan makanan untuk buka bersama, dan kebetulan, hari ini keluarga besar Pak Mintono akan berkumpul di rumah sederhana ini untuk buka bersama. hingga kami masak besar, sederhana, dalam porsi yang sangat banyak, tradisional, dan sangat nikmat.^_^

hari terakhir kami.
kami melepaskan segala rasa yang ada di hati kami pada keluarga yang sangat harmonis ini. kami meneteskan air mata tak kuasa menahan rasa yang ada. Namun apa yang bisa kami lakukan?
Uang banyakpun, kami tak punya, apalagi mobil mewah yang siap kami berikan pada mereka.
kami haya bisa berdo'a dan memberikan semangat pada mereka.

kehidupan yang sangat berbeda dengan keluarga kami, namun dari desa dan keluarga itulah kami mendapatkan banyak pelajaran dan hal hal yang sangat banyak yang harusnya dari awal kami syukuri,...

jadi tahun depan, aku berharap, bisa mengadakan acara seperti ini lagi.^__^
dan aku, sangat berterimakasih jika aku diperkenankan untuk mengulang saat saat yang sangat indah ini.

HIDUP ITU

Kenang lama tengah keheningan
Di kelam kesunyian malam
Hanya menggaung kaki tak terperanjak
Membisu di pertapaan malam
Sampai denting hati di titik nol
Arti hakiki di cari cari
Ayat ayat kasih di peluk

Melukis kabut tanpa dimensi
Di berapa langkah tubuh singgah
Seberapa jauh jejak sampai manusia lacak
Hidup itu hidup
Hidup tak di kata

Menuai sepenggalah kata dengan memecah asa kemustakhilan
Selaksa angan  buta
Larut di arus deras mimpi
Jauh menjauh
Semakin jauh diri memandang hati
Menilai diri semakin asing